Rabu, 16 Februari 2011

Almond Cegah Diabetes dan Penyakit Jantung

Menurut riset, mengkonsumsi buah almond dapat membantu mencegah diabetes dan penyakit jantung.
Para peneliti menemukan bahwa menjadikan jenis kacang-kacangan ini sebagai teman makanan, dapat membantu mengatasi diabetes tipe 2, yang jumlahnya hingga 90 hingga 95 persen dari seluruh kasus.
Demikian pula dapat memerangi kondisi, terkait kegemukan dan kurangnya aktifitas fisik. Menurut laporan yang diterbitkan Journal of American College of Nutrition, hal ini dapat juga mengatasi penyakit jantung.
Penderita diabetes biasanya mengalami kekurangan insulin atau penurunan kemampuan menggunakan hormon yang memungkinkan glukosa memasuki sel untuk berubah menjadi energi.
Bila diabetes tidak terkontrol, glukosa dan lemak darah dari waktu ke waktu akan merusak organ vital.
Studi ini menemukan bahwa asupan makanan yang diperkaya almond akan dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin serta menurunkan kadar kolesterol LDL pada mereka yang belum terserang disbetes. Orang dengan kadar gula darah lebih tinggi dari normal walaupun belum cukup tinggi telah diklasifikasikan sebagai diabetes.
Penelitian yang dilakukan di Universitas Kedokteran dan Kedoteran Gigi New Jersey ini—memperlihatkan efek dari mereka yang mengkonsumsi asupan yang diperkaya almond pada 65 orang dewasa bukan penderita diabetes.
Kelompok dengan asupan yang diperkaya almond menunjukkan lebih besar sensitifitas insulin dan penurunan kolesterol LDL-nya dibandingkan dengan kelompok yang mengkonsumsi jenis kacang-kacangan lain.
”Temuan ini sangat menjanjikan bagi mereka yang beresiko terserang penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2 maupun penyakit jantung, karena perubahan pola makan dapat membantu meningkatkan beberapa faktor penting dalam pengembangan suatu penyakit,” ujar ketua peneliti, Dr Michelle Wien, seperti dilansir Daily Mail.  
Diperkirakan terdapat sekitar 55 juta orang di Eropa didiagnose diabetes.
Sedangkan penderita diabetes di Indonesia sejak 2000 mengalami peningkatan dan pada 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang, kata pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Dr Yunani Setyandrian, seperti diungkap Rumah Diabetes. (Erabaru/DM/sua)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar